Pada tahun 2023, saya terpilih sebagai salah satu dari lima siswa yang mewakili SMA dalam mengikuti bimbingan persiapan seleksi Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Kebumian. Kesempatan ini merupakan pengalaman berharga bagi saya untuk memperdalam pengetahuan di bidang kebumian, mengembangkan kemampuan berpikir analitis, serta melatih kedisiplinan dalam mempersiapkan diri menghadapi kompetisi akademik. Selama proses persiapan, saya berusaha memahami berbagai materi yang berkaitan dengan fenomena alam, kondisi geologi, dan dinamika bumi, sekaligus melatih kemampuan dalam menganalisis dan menyelesaikan soal-soal yang menantang. Meskipun belum berhasil meraih peringkat dalam olimpiade tersebut, pengalaman ini memberikan pelajaran penting mengenai arti ketekunan, kesiapan, dan evaluasi diri dalam menghadapi persaingan akademik. Saya menyadari bahwa setiap kesempatan merupakan ruang untuk belajar dan berkembang, terlepas dari hasil yang diperoleh. Pengalaman ini juga mendorong saya untuk lebih menghargai proses, mengenali kekurangan diri, dan menjadikan tantangan sebagai motivasi untuk terus meningkatkan pengetahuan serta kemampuan di masa mendatang.
Pada tahun 2018, saya terpilih untuk berpartisipasi dalam program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) sebagai salah satu penulis dalam buku kompilasi cerpen dan puisi bertajuk “Ink Time”. Dalam kegiatan tersebut, saya menulis sebuah cerpen berjudul “Christine & Alexandra” yang mengangkat kisah persahabatan dua siswa yang kembali dipertemukan setelah sempat berpisah karena menempuh pendidikan. Melalui karya ini, saya berkesempatan untuk mengembangkan kreativitas, mengasah keterampilan menulis, serta menuangkan ide dan imajinasi ke dalam sebuah cerita yang bermakna. Proses penulisan cerpen tersebut juga mengajarkan saya pentingnya menyusun alur cerita, mengembangkan karakter tokoh, dan menyampaikan pesan kepada pembaca melalui tulisan. Selain terlibat dalam proses penyusunan buku, saya juga berkesempatan mengikuti pameran karya di Singkawang Grand Mall bersama rekan-rekan penulis lainnya sebagai perwakilan sekolah. Dalam kesempatan tersebut, saya memperoleh pengalaman untuk memperkenalkan karya kepada masyarakat sekaligus berinteraksi dengan sesama peserta yang memiliki minat di bidang seni dan literasi. Pengalaman ini tidak hanya memperluas wawasan saya mengenai dunia kepenulisan, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri, kemampuan berkomunikasi, dan keberanian untuk menampilkan hasil karya di hadapan publik. Lebih dari itu, partisipasi dalam program GSMS mendorong saya untuk terus mengeksplorasi kreativitas, menghargai proses berkarya, dan memahami bahwa tulisan dapat menjadi sarana untuk menyampaikan gagasan, membangun keterhubungan emosional, serta menginspirasi orang lain.
Saya berhasil meraih peringkat pertama dalam lomba pidato bertema Sumpah Pemuda yang diselenggarakan oleh sekolah dalam rangka memperingati Bulan Bahasa bagi siswa SMP. Perlombaan tersebut dilaksanakan secara daring akibat pandemi, sehingga saya dituntut untuk mempersiapkan dan menyampaikan pidato dengan baik melalui media digital. Dalam pidato tersebut, saya mengangkat semangat persatuan, nasionalisme, dan peran generasi muda dalam membangun bangsa. Salah satu kutipan yang saya gunakan untuk memperkuat pesan pidato adalah perkataan yang dikenal luas dari Soekarno, “Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia,” yang menggambarkan besarnya potensi generasi muda dalam membawa perubahan. Pengumuman pemenang disampaikan melalui media sosial sekolah, dan saya menerima sertifikat digital sebagai bentuk apresiasi atas pencapaian tersebut. Prestasi ini menjadi pengalaman yang berkesan bagi saya karena tidak hanya memberikan kebanggaan, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri, mengasah kemampuan berbicara di depan umum, serta memperdalam pemahaman saya mengenai pentingnya menyampaikan gagasan secara terstruktur dan persuasif. Selain itu, pencapaian ini memotivasi saya untuk terus mengembangkan kemampuan komunikasi dan berani menyampaikan pendapat.